Wednesday

History of Indonesia Football

Tim nasional sepak bola Indonesia pernah memiliki kebanggaan tersendiri, menjadi tim Asiapertama yang berpartisipasi di Piala Dunia FIFA pada tahun 1938. Saat itu mereka
masih membawa nama Hindia Belanda dan kalah 6-0 dari Hongaria, yang hingga kini menjadi satu-satunya pertandingan mereka di turnamen final Piala Dunia. Ironisnya, Indonesia memiliki jumlah penduduk yang sangat banyak dan memiliki masyarakat dengan minat yang sangat tinggi terhadap olahraga sepak bola, menjadikan sepak bola olahraga terpopuler di Indonesia (selainbulu tangkis), namun Indonesia tidaklah termasuk jajaran tim-tim kuat di Konfederasi Sepak bola Asia.

Pada tahun 1930-an, di Indonesia berdiri tiga organisasi sepak bola berdasarkan suku bangsa, yaitu Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB)yang lalu berganti nama menjadi Nederlandsch Indische Voetbal Unie (NIVU) di tahun

1936 milik bangsa Belanda, Hwa Nan Voetbal Bond(HNVB) milik seseorang yang berketurunan Tionghoa, dan Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia (PSSI) milik orang Indonesia. Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB) sebuah organisasi sepak bola orang-orang Belanda di Hindia Belandamenaruh hormat kepada Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia (PSSI) lantaran Soerabajasche Indonesische Voetbal Bond (SIVB)yang memakai bintang-bintang dari NIVBkalah dengan skor 2-1 lawanVoetbalbond Indonesia Jacatra (VIJ)salah satu klub anggota PSSIdalam sebuah ajang kompetisiPSSI ke III pada 1933 di Surabaya.

NIVU yang semula memandang sebelah mata PSSI akhirnya mengajak bekerjasama. Kerjasama tersebut ditandai dengan penandatanganan Gentlemen’s Agreement pada 15 Januari1937. Pascapersetujuan perjanjian ini, berarti secara de facto dan de jure Belanda mengakuiPSSI. Perjanjian itu juga menegaskan bahwa PSSI dan NIVU menjadi pucuk organisasi sepak bola di Hindia Belanda. Salah satu butir di dalam perjanjian itu juga berisi soal tim untuk dikirim ke Piala Dunia, dimana dilakukan pertandingan antara tim bentukan NIVU melawan tim bentukan PSSI sebelum diberangkatkan ke Piala Dunia (semacam seleksi tim). Tapi NIVUmelanggar perjanjian dan memberangkatkan tim bentukannya. NIVU melakukan hal tersebut karena tak mau kehilangan muka, sebab PSSI pada masa itu

memiliki tim yang kuat. Dalam pertandingan internasional, PSSI membuktikannya. Pada 7 Agustus 1937 tim yang beranggotakan, di antaranya Maladi, Djawad, Moestaram, Sardjan, berhasil menahan imbang 2-2 tim Nan Hwa dari Cina di Gelanggang Union, Semarang. Padahal Nan Hwa pernah menyikat kesebelasan Belanda dengan skor 4-0. Dari sini kedigdayaan tim PSSI mulai kesohor.

Atas tindakan sepihak dari NIVU ini, Soeratin, ketua PSSI yang juga aktivis gerakan nasionalisme Indonesia,sangat geram. Ia menolak memakai nama NIVU. Alasannnya, kalau NIVU diberikan hak, maka komposisi materi pemain akan dipenuhi orang-orang Belanda. Tapi FIFAmengakui NIVU sebagai perwakilan dari Hindia Belanda. Akhirnya PSSI membatalkan secara sepihak perjanjian Gentlemen’s Agreement saat Kongres di Solo pada 1938.

Maka sejarah mencatat mereka yang berangkat ke Piala Dunia Perancis 1938 mayoritas orang Belanda. Mer

eka yang terpilih untuk berlaga di Perancis, yaitu Bing Mo Heng (kiper), Herman Zommers, Franz Meeng, Isaac Pattiwael, Frans Pede Hukom, Hans Taihattu, Pan Hong Tjien, Jack Sammuels, Suwarte Soedermadji, Anwar Sutan, dan Achmad Nawir (kapten). Mereka diasuh oleh pelatih sekaligus ketua NIVU,Johannes Mastenbroek. Mo Heng, Nawir, Soedarmadji adalah pemain-pemain pribumi yang berhasil memperkuat kesebelasan Hindia Belanda, tetapi bertanding di bawah bendera kerajaan Nederland.

Piala Dunia FIFA

Indonesia pada tahun 1938 (di masa penjajahan Belanda) sempat lolos dan ikut bertanding di Piala Dunia 1938. Waktu itu Tim Indonesia di bawah nama Dutch East Indies (Hindia Belanda), peserta dari Asia yang pertama kali lolos ke Piala Dunia. Indonesia tampil mewakili zona Asia di kualifikasi grup 12. Grup kualifikasi Asia untuk Piala Dunia 1938 hanya terdiri dari 2 negara, Indonesia (Hindia Belanda) dan Jepangkarena saat itu dunia sepak bola Asia memang hampir tidak ada. Namun, Indonesia akhirnya lolos ke final Piala Dunia 1938 tanpa harus menyepak bola setelah Jepang mundur dari babak kualifikasi karena sedang berperang dengan Cina.

Pertandingan melawan Hongaria

Pada 5 Juni 1938, sejarah mencatat pembantaian tim Hungaria terhadap Hindia Belanda. Mereka bermain di Stadion Velodrome Municipale, Reims, Perancis. Sekitar 10.000 penonton hadir menyaksikan pertandingan ini. Sebelum bertanding, para pemain mendengarkan lagu kebangsaan masing-masing. Kesebelasan Hindia Belanda mendengarkan lagu kebangsaan Belanda Het Wilhelmus. Karena perbedaan tinggi tubuh yang begitu mencolok, walikota Reims menyebutnya, "saya seperti melihat 22 atlet Hungaria dikerubungi oleh 11 kurcaci."

Meski strategi tak bisa dibilang buruk, tapi Tim Hindia Belanda tak dapat berbuat banyak. Pada menit ke-13, jala di gawang Mo Heng bergetar oleh tembakan penyerang Hongaria Vilmos Kohut. Lalu hujan gol berlangsung di menit ke-15, 28, dan 35. Babak pertama berakhir 4-0. Nasib Tim Hindia Belanda tamat pada babak kedua, dengan skor akhir 0-6. Pada saat itu Piala Dunia memakai sistem knock-out.

Meskipun kalah telak, surat kabar dalam negeri, Sin Po, memberikan apresiasinya pada terbitan mereka, edisi 7 Juni 1938 dengan menampilkan headline: "Indonesia-Hongarije 0-6, Kalah Sasoedahnja Kasi Perlawanan Gagah".

Setelah penampilan perdana itu, Indonesia tidak pernah lagi masuk babak pertama Piala Dunia FIFA, dengan hasil paling memuaskan adalah Sub Grup III Kualifikasi Piala Dunia FIFA 1986, dan kalah Adu Penalti melawan Korea Utara.

Piala Asia

Di kancah Piala Asia Indonesia pertama kali tampil di putaran final pada tahun 1996 di Uni Emirat Arab (UAE). Indonesia berhasil membuat kejutan di pertandingan pertama dengan berhasil menahan imbang Kuwait 2-2, tetapi akhirnya tersingkir di penyisihan grup setelah kalah 2-4 dari Korea Selatan dan kalah 0-2 dari tuan rumah UAE. Indonesia meraih kemenangan pertama pada tahun 2004 di China setelah menaklukkan Qatar 2-1. Yang kedua diraih ketika mengalahkan Bahrain dengan skor yang sama tahun 2007, saat menjadi tuan rumah turnamen bersama Malaysia, Thailand, dan Vietnam.

Piala AFF

Di kancah Asia Tenggara sekalipun, Indonesia belum pernah berhasil menjadi juara Piala AFF (dulu disebut Piala Tiger) dan hanya menjadi salah satu tim unggulan. Prestasi tertinggi Indonesia hanyalah tempat kedua di tahun 2000,


2002, dan 2004, dan 2010 (dan menjadikan Indonesia negara terbanyak peraih runner-up dari seluruh negara peserta Piala AFF). Di ajang SEA Games pun Indonesia jarang meraih medali emas, yang terakhir diraih tahun 1991.

Kostum

Kostum tim nasional Indonesia tidak hanya merah-putih sebab ada juga putih-putih, biru-putih, dan hijau-putih. Menurut Bob Hippy, yang ikut memperkuat timnas sejak tahun 1962 hingga 1974, kostum Indonesia dengan warna selain merah-putih itu muncul ketika PSSImempersiapkan dua tim untuk Asian Games IV-1962, Jakarta.

Saat itu ada dua tim yang diasuh pelatih asal Yugoslavia, Toni Pogacnic, yakni PSSI Banteng dan PSSI Garuda. Yang Banteng, yang terdiri dari pemain senior saat itu, seperti M. Zaelan, Djamiat Dalhar, dan Tan Liong Houw, selain menggunakan kostum merah-putih juga punya kostum hijau-putih. Sedangkan tim Garuda, yang antara lain diperkuat Omo, Anjik Ali Nurdin, dan Ipong Silalahi juga dilengkapi kostum biru-putih. Tetapi, setelah terungkap kasus suap yang dikenal dengan "Skandal Senayan", sebelum Asian Games IV-1962, pengurus PSSI hanya membuat satu timnas. Itu sebabnya, di Asian Games IV-1962, PSSI sama sekali tidak mampu berbuat apa-apa karena kemudian kedua tim itu dirombak. Selanjutnya digunakan tim campuran di Asian Games.

Mulyadi (Fan Tek Fong), asisten pelatih klub UMS, yang memperkuat timnas mulai tahun 1964 hingga 1972, menjelaskan bahwa setelah dari era Asian Games, sepanjang perjalanan timnas hingga tahun 1970-an, PSSI hanya mengenal kostum merah-putih dan putih-putih. Begitu juga ketika timnas melakukan perjalanan untuk bertanding di sejumlah negara di Eropa pada tahun 1965. Saat itu setiap kali bermain, tim nasional hanya menggunakan merah-putih dan putih-putih dengan gambar Garuda yang besar di bagian dada hingga ke perut. Seragam hijau-putih kembali digunakan saat mempersiapkan kesebelasan pra-Olimpiade 1976, dan kemudian digunakan pada arena SEA Games XI-1981 Manila. "Begitu juga ketika Indonesia bermain di Thailand, di mana saat itu Indonesia menjadi runner-up Kings Cup 1981," kata Ronny Pattinasarani yang memperkuat PSSI tahun 1970-1985.

Di Piala Asia 2007 yang digelar mulai 8 Juli hingga Minggu 29 Juli, Nike juga telah mendesain kostum tim nasional Indonesia, tetapi kali ini bukan hijau-putih, melainkan putih-hijau. Tentu tetap dengan detail yang sama, seperti Garuda yang selalu bertengger di dada.

Dan pada kostum Timnas Indonesia terakhir yang dibuat Nike pada 2010 untuk Piala Suzuki AFF 2010, motif baru kembali diperkenalkan. Pada kostum ini, terdapat Burung Garuda besar yang membentang hampir di seluruh bagian depan kostum yang tidak berwarna tetapi memiliki garis-garis yang memiliki warna hitam cenderung abu-abu. Sementara pada kostum kedua yang berwarna Putih-Hijau, terdapat motif yang sama, tetapi garis-garis pada burung Garuda berwarna abu-abu muda

Staff Kepelatihan Saat ini


ManajerBendera Indonesia Ferry Kodrat
Pelatih KepalaBendera Belanda Wim Rijsbergen
Asisten Pelatih 1Bendera Indonesia Liestiadi Sinaga
Asisten Pelatih 2Bendera Indonesia Widodo C Putro
Pelatih KiperBendera Indonesia Eddy Harto
Pelatih Fitness (Consultant)Bendera Belanda Raymond Verheijen
PhysioterapisBendera Indonesia Mathias Ibo
Pelatih Kepala U-23Bendera Indonesia Rahmad Darmawan
Asisten Pelatih U-23Bendera Indonesia Aji Santoso
Pelatih Kepala U-19Bendera Uruguay Cesar Payovich
Asisten Pelatih U-19
Bendera Uruguay Jorge Anon

Daftar Pelatih Tim Nasional Indonesia

PeriodeAsal NegaraNama Pelatih
1938Bendera Belanda BelandaJohannes Christoffel van Mastenbroek
1951-1953Bendera Singapura SingapuraChoo Seng Quee
1954-1964Bendera Yugoslavia YugoslaviaAntun Pogačnik
1966-1970Bendera Indonesia IndonesiaE.A. Mangindaan
1970Bendera Indonesia IndonesiaEndang Witarsa
1971-1972Bendera Turki TurkiYusuf Balik
1972-1974Bendera Indonesia IndonesiaSuwardi Arland
1974-1975Bendera Indonesia IndonesiaAang Witarsa
1975-1976Bendera Belanda BelandaWiel Coerver
1976-1978Bendera Indonesia IndonesiaSuwardi Arland
1978-1979Bendera Belanda BelandaFrans Van Balkom
1979-1980Bendera Polandia PolandiaMarek Janota
1980-1981Bendera Jerman JermanBernd Fischer
1981-1982Bendera Indonesia IndonesiaHarry Tjong
1982-1983Bendera Indonesia IndonesiaSinyo Aliandoe
1983-1984Bendera Indonesia IndonesiaM. Basri, Iswadi Idris dan Abdul Kadir
1985-1987Bendera Indonesia IndonesiaBertje Matulapelwa
1987Bendera Indonesia IndonesiaSinyo Aliandoe
1987-1991Bendera Rusia RusiaAnatoli Polosin
1991-1993Bendera Yugoslavia YugoslaviaIvan Toplak
1993-1995Bendera Italia ItaliaRomano Mattè
1995-1996Bendera Indonesia IndonesiaDanurwindo
1996-1997Bendera Belanda BelandaHenk Wullems
1998Bendera Indonesia IndonesiaRusdy Bahalwan
1999Bendera Jerman JermanBernard Schumm
1999-2000Bendera Indonesia IndonesiaNandar Iskandar
2000-2001Bendera Indonesia IndonesiaBenny Dollo
2002-2004Bendera Bulgaria BulgariaIvan Venkov Kolev
2004-2007Bendera Inggris InggrisPeter Withe
2007Bendera Bulgaria BulgariaIvan Venkov Kolev
2008-2010Bendera Indonesia IndonesiaBenny Dollo
2010-2011Bendera Austria AustriaAlfred Riedl
2011-sekarangBendera Belanda BelandaWim Rijsbergen

Pemain Tim Nasional Indonesia

Skuat

#Pos.PemainTanggal Lahir (Umur)CapsGolKlub
1GKMarkus Haris Maulana14 Maret 1981 (umur 30)340Bendera Indonesia Persib Bandung
12GKFerry Rotinsulu28 Desember 1982 (umur 28)50Bendera Indonesia Sriwijaya FC
29GKKurnia Meiga Hermansyah7 Mei 1990 (umur 21)00Bendera Indonesia Arema Indonesia
30GKI Made Wirawan12 Januari 1981 (umur 30)00Bendera Indonesia Persiba Balikpapan
2DFMohammad Nasuha15 September 1984 (umur 26)142Bendera Indonesia Persija Jakarta
3DFZulkifli Syukur3 Mei 1984 (umur 27)120Bendera Indonesia Arema Indonesia
4DFRicardo Salampessy18 Februari 1984 (umur 27)170Bendera Indonesia Persipura Jayapura
5DFWahyu Wijiastanto31 Mei 1986 (umur 25)00Bendera Indonesia Persiba Bantul
13DFGunawan Dwi Cahyo20 April 1989 (umur 22)00Bendera Indonesia Persijap Jepara
16DFMuhammad Roby12 September 1985 (umur 25)160Bendera Indonesia Persisam Putra Samarinda
21DFSupardi9 April 1983 (umur 28)70Bendera Indonesia Sriwijaya FC
23DFHamka Hamzah29 Januari 1984 (umur 27)180Bendera Indonesia Persipura Jayapura
24DFBenny Wahyudi20 Maret 1986 (umur 25)60Bendera Indonesia Arema Indonesia
25DFAmbrizal1 Februari 1981 (umur 30)20Bendera Indonesia Persija Jakarta
6MFTony Sucipto12 Februari 1986 (umur 25)81Bendera Indonesia Persija Jakarta
8MFEka Ramdani18 Juni 1984 (umur 27)241Bendera Indonesia Persib Bandung
10MFOktovianus Maniani10 Oktober 1990 (umur 20)133Bendera Indonesia Sriwijaya FC
14MFArif Suyono3 Januari 1984 (umur 27)204Bendera Indonesia Arema Indonesia
15MFFirman Utina (wakil kapten)15 Desember 1981 (umur 29)465Bendera Indonesia Sriwijaya FC
17MFMuhammad Ilham22 Januari 1981 (umur 30)142Bendera Indonesia Persija Jakarta
19MFAhmad Bustomi13 Juli 1985 (umur 26)130Bendera Indonesia Arema Indonesia
22MFMuhammad Ridwan8 Juli 1980 (umur 31)265Bendera Indonesia Sriwijaya FC
25MFEgi Melgiansyah4 September 1990 (umur 21)10Bendera Indonesia Pelita Jaya
26MFHariono2 Oktober 1985 (umur 25)810Bendera Indonesia Persib Bandung
27MFIan Louis Kabes13 Mei 1986 (umur 25)30Bendera Indonesia Persipura Jayapura
7FWBoaz Solossa16 Maret 1986 (umur 25)216Bendera Indonesia Persipura Jayapura
9FWCristian Gonzáles30 Agustus 1976 (umur 35)129Bendera Indonesia Persib Bandung
11FWFerdinand Sinaga18 September 1988 (umur 22)10Bendera Indonesia Semen Padang
18FWIrfan Bachdim11 Agustus 1988 (umur 23)92Bendera Indonesia Persema Malang
20FWBambang Pamungkas Kapten10 Juni 1980 (umur 31)7736Bendera Indonesia Persija Jakarta

Info of Indonesia 'Economy , Demographics, and Culture'


Economy

Using water buffalo to plough rice fields in Java. Agriculture had been the country's largest employer for centuries.



Indonesia has a mixed economy in which both the private sector and government play significant roles. The country is the largest economy in Southeast Asia and a member of the G-20 major economies. Indonesia's estimated gross domestic product (nominal), as of 2010 was US$706.73 billion with estimated nominal per capita GDP was US$3,015, and per capita GDP PPP was US$4,394 (international dollars). June 2011: At World Economic Forum on East Asia, Indonesian president said Indonesia will be in the top ten countries with the strongest economy within the next decade. The Gross domestic product (GDP) is almost Rp.1 trillion ($117.6 million) and the debt ratio to the GDP is 26 percent. The industry sector is the economy's largest and accounts for 46.4% of GDP (2010), this is followed by services (37.1%) and agriculture (16.5%). However, since 2010, service sector has employed more people than other sectors, accounting 48.9% of the total labor force, this has been followed by agriculture (38.3%) and industry (12.8%). Agriculture, however, had been the country's largest employer for centuries.

According to World Trade Organization data, Indonesia was the 27th biggest exporting country in the world in 2010, moving up three places from a year before. Indonesia's main export markets (2009) are Japan (17.28%), Singapore (11.29%), the United States (10.81%), and China (7.62%). The major suppliers of imports to Indonesia are Singapore (24.96%), China (12.52%), and Japan (8.92%). In 2005, Indonesia ran a trade surplus with export revenues of US$83.64 billion and import expenditure of US$62.02 billion. The country has extensive natural resources, including crude oil, natural gas, tin, copper, and gold. Indonesia's major imports include machinery and equipment, chemicals, fuels, and foodstuffs. And the country's major export commodities include oil and gas, electrical appliances, plywood, rubber, and textiles.

Jakarta, the capital of Indonesia and the country's largest commercial center.

In the 1960s, the economy deteriorated drastically as a result of political instability, a young and inexperienced government, and economic nationalism, which resulted in severe poverty and hunger. By the time of Sukarno's downfall in the mid-1960s, the economy was in chaos with 1,000% annual inflation, shrinking export revenues, crumbling infrastructure, factories operating at minimal capacity, and negligible investment. Following President Sukarno's downfall in the mid-1960s, the New Order administration brought a degree of discipline to economic policy that quickly brought inflation down, stabilized the currency, rescheduled foreign debt, and attracted foreign aid and investment. (See Berkeley Mafia). Indonesia was until recently Southeast Asia's only member of OPEC, and the 1970s oil price raises provided an export revenue windfall that contributed to sustained high economic growth rates, averaging over 7% from 1968 to 1981. Following further reforms in the late 1980s, foreign investment flowed into Indonesia, particularly into the rapidly developing export-oriented manufacturing sector, and from 1989 to 1997, the Indonesian economy grew by an average of over 7%.

Indonesia was the country hardest hit by the Asian financial crisis of 1997–98. Against the US dollar, the rupiah dropped from about Rp. 2,600 to a low point of 14,000, and the economy shrank by 13.7%. The Rupiah stabilised in the Rp. 8,000 to 10,000 range, and a slow but significant economic recovery has ensued. However, political instability, slow economic reform, and corruption slowed the recovery. Transparency International, for example, has since ranked Indonesia below 100 in its Corruption Perceptions Index.Nevertheless, GDP growth averaged 5% between 2004 and 2006. The Growth, unfortunately, was not able to make a widely real impact toward unemployment and poverty, particularly due to the stagnant wages and rapid hikes in food, oil and gas price. Since 2007, however, with the improvement in banking sector and domestic consumption, the national economic growth has been 6% annually and this helped the country weather the 2008–2009 global recession. As of 2010, an estimated 13.3% of the population was living below poverty line, and the unemployment rate was 7.1%.

Demographics

Balinese children. There are around 300 distinct native ethnicities in Indonesia.

The population of Indonesia according to the 2010 national census is 237.6 million, with population growth still high at 1.9 percent. 58% living on the island of Java, the world's most populous island. Despite a fairly effective family planning program that has been in place since the 1960s, the population is expected to grow to around 254 million by 2020 and 288 million by 2050.

There are around 300 distinct native ethnicities in Indonesia, and 742 different languages and dialects. Most Indonesians are descended from Austronesian-speaking peoples whose languages can be traced to Proto-Austronesian (PAn), which possibly originated in Taiwan. Another major grouping are Melanesians, who inhabit eastern Indonesia. The largest ethnic group is the Javanese, who comprise 42% of the population, and are politically and culturally dominant. The Sundanese, ethnic Malays, and Madurese are the largest non-Javanese groups. A sense of Indonesian nationhood exists alongside strong regional identities.Society is largely harmonious, although social, religious and ethnic tensions have triggered horrendous violence. Chinese Indonesians are an influential ethnic minority comprising 3–4% of the population.Much of the country's privately owned commerce and wealth is Chinese-Indonesian-controlled, which has contributed to considerable resentment, and even anti-Chinese violence.

The Istiqlal Mosque in Central Jakarta. Indonesia has the world's largest population of Muslims

The official national language, Indonesian, a form of Malay, is universally taught in schools, and consequently is spoken by nearly every Indonesian. It is the language of business, politics, national media, education, and academia. It is based on the prestige dialect of Malay, that of theJohor-Riau Sultanate, which for centuries had been the lingua franca of the archipelago, standards of which are the official languages in Singapore, Malaysia and Brunei. It was promoted by Indonesian nationalists in the 1920s, and declared the official language under the name Bahasa Indonesia on the proclamation of independence in 1945. Most Indonesians speak at least one of the several hundred local languages and dialects, often as their first language. Of these, Javaneseis the most widely spoken as the language of the largest ethnic group. On the other hand, Papua has over 270 indigenous Papuan and Austronesian languages, in a region of about 2.7 million people.

While religious freedom is stipulated in the Indonesian constitution, the government officially recognizes only six religions: Islam, Protestantism, Roman Catholicism, Hinduism, Buddhism, and Confucianism. Although it is not an Islamic state, Indonesia is the world's most populous Muslim-majority nation, with 86.1% of Indonesians were Muslim according to the 2000census. On May 21, 2011 the Indonesian Sunni-Shia Council (MUHSIN) was established. The council aims to hold gatherings, dialogues and social activities. It was the answer of violence committed in the name of religion. The majority of Muslims in Indonesia are Sunni. 9% of the population was Christian, 3% Hindu, and 2% Buddhist or other. Most Indonesian Hindus are Balinese, and most Buddhists in modern-day Indonesia are ethnic Chinese. Though now minority religions, Hinduism and Buddhism remain defining influences inIndonesian culture. Islam was first adopted by Indonesians in northern Sumatra in the 13th century, through the influence of traders, and became the country's dominant religion by the 16th century. Roman Catholicism was brought to Indonesia by early Portuguese colonialists and missionaries, and the Protestant denominations are largely a result of Dutch Calvinist and Lutheran missionary efforts during the country's colonial period. A large proportion of Indonesians—such as the Javanese abangan, Balinese Hindus, and Dayak Christians—practice a less orthodox, syncretic form of their religion, which draws on local customs and beliefs.

Culture

Wayang Kulit (shadow puppet) in Wayang Purwa type, depicting five Pandava, from left to right: Bhima,Arjuna, Yudhishtira, Nakula, and Sahadeva, Indonesia Museum, Jakarta.

Indonesia has about 300 ethnic groups, each with cultural identities developed over centuries, and influenced by Indian, Arabic, Chinese, and European sources. Traditional Javanese and Balinese dances, for example, contain aspects of Hindu culture and mythology, as do wayang kulit (shadow puppet) performances. Textiles such as batik,ikat and songket are created across Indonesia in styles that vary by region. The most dominant influences on Indonesian architecture have traditionally been Indian; however, Chinese, Arab, and European architectural influences have been significant.

Sports in Indonesia are generally male-orientated and spectator sports are often associated with illegal gambling. The most popular sports are badminton andfootball. Indonesian players have won the Thomas Cup (the world team championship of men's badminton) thirteen of the twenty-six times that it has been held since 1949, as well as numerous Olympic medals since the sport gained full Olympic status in 1992. Its women have won the Uber Cup, the female equivalent of the Thomas Cup, twice, in 1994 and 1996. Liga Indonesia is the country's premier football club league. Traditional sports include sepak takraw, and bull racing in Madura. In areas with a history of tribal warfare, mock fighting contests are held, such as, caci in Flores, and pasola in Sumba. Pencak Silat is an Indonesian martial art.

A selection of Indonesian food, including roasted fish, nasi timbel (rice wrapped in banana leaf), sambal, friedtempeh and tofu, and sayur asem.

Indonesian cuisine varies by region and is based on Chinese, European, Middle Eastern, and Indian precedents. Rice is the main staple food and is served with side dishes of meat and vegetables. Spices (notably chili), coconut milk, fish and chicken are fundamental ingredients. Indonesian traditional music includes gamelan and keroncong. Dangdut is a popular contemporary genre of pop music that draws influence from Arabic, Indian, and Malay folk music.[citation needed] The Indonesian film industry's popularity peaked in the 1980s and dominated cinemas in Indonesia, although it declined significantly in the early 1990s. Between 2000 and 2005, the number of Indonesian films released each year has steadily increased.

The oldest evidence of writing in Indonesia is a series of Sanskrit inscriptions dated to the 5th century CE. Important figures in modern Indonesian literature include: Dutch author Multatuli, who criticized treatment of the Indonesians under Dutch colonial rule; Sumatrans Muhammad Yamin and Hamka, who were influential pre-independence nationalist writers and politicians; and proletarian writerPramoedya Ananta Toer, Indonesia's most famous novelist. Many of Indonesia's peoples have strongly rooted oral traditions, which help to define and preserve their cultural identities.

Media freedom in Indonesia increased considerably after the end of President Suharto's rule, during which the now-defunct Ministry of Information monitored and controlled domestic media, and restricted foreign media. The TV market includes ten national commercial networks, and provincial networks that compete with public TVRI. Private radio stations carry their own news bulletins and foreign broadcasters supply programs. At a reported 25 million users in 2008, Internet usage was estimated at 12.5% in September 2009.

More than 30 million cell phones are sold in Indonesia each year, and 27 percent of them are local brands.

Main Indonesia Web

Translate